Iklan

Bagaimana Agar Bisa Belajar Berjam-jam Tanpa Bosan?

Ilustrasi/inews.id
Bayangkan kita tidak pernah membaca buku. Lalu, seseorang menyodorkan sebuah buku tebal—seribu halaman lebih—dan meminta kita mengkhatamkannya dalam seminggu. Apakah kita akan tertarik? Kemungkinan besar tidak! Bahkan umpama kita diberi tahu kalau buku tebal itu berisi hal-hal penting yang sangat menarik. 

Kita tidak tertarik; pertama, karena buku itu sangat tebal; dan kedua, karena kita tidak pernah membaca buku! Membayangkan membaca buku dengan seribu halaman lebih, artinya harus membaca ratusan halaman buku setiap hari. Orang yang jarang—apalagi tidak pernah—membaca buku, tidak akan tertarik! 

Kenyataannya, tidak ada bayi terlahir ke dunia dengan buku di tangannya. Tidak ada orang yang tiba-tiba jadi kutubuku. Tidak ada manusia yang bisa membangun hal-hal besar dalam semalam. Begitu pun, tidak ada di antara kita yang tiba-tiba punya kebiasaan tertentu, semisal kebiasaan belajar.

Semua kebiasaan dibangun perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hari demi hari, termasuk kebiasaan belajar.

Jadi, jika tujuan kita memiliki kebiasaan membaca buku atau kemampuan belajar hingga berjam-jam, kita harus membangunnya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dan itu bisa butuh waktu lama, sekaligus kedisiplinan dan konsistensi.

Seperti contoh membaca buku tebal seribuan halaman tadi. Kalau kita jarang atau tidak pernah membaca buku, kita tidak akan tertarik. Baru membayangkannya saja, bisa jadi kita sudah eneg. Agar kita tertarik membaca buku, kita harus memulainya dengan yang paling mudah sekaligus ringan. Misalnya dengan membaca buku yang tipis, di bawah 100 halaman.

Jika membayangkan membaca buku tipis masih membuat kita malas, bayangkan hanya membaca satu halaman per hari. Hanya satu halaman per hari, setelah itu sudah, lanjutkan besok. Tapi harus disiplin dan konsisten. Besoknya lanjutkan lagi bacaan kemarin, dengan membaca satu halaman lagi. Dan begitu seterusnya, sampai akhirnya khatam. 

Ini tak jauh beda kalau kita tidak pernah olahraga, lalu seseorang mengajak kita untuk lari pagi, mengelilingi alun-alun 50 kali. Apa yang akan terlintas dalam pikiran kita? Kemungkinan besar, kita akan berpikir, “Dia gila, atau bagaimana? Mending tidur daripada lari keliling alun-alun lima puluh kali!”

Kebanyakan orang, khususnya yang tidak pernah olahraga, tidak akan tertarik kalau diajak lari mengelilingi alun-alun 50 kali. Jangankan 50 kali, bahkan 5 kali saja belum tentu tertarik! 

Agar orang yang tidak pernah olahraga mau tertarik berolahraga, ajakan yang ditawarkan harus sangat, sangat, ringan. Sebegitu ringan, hingga seperti “bukan apa-apa”, hingga mereka merasa mampu melakukannya. Misal, sebagai awal pembentukan kebiasaan, cukup jalan santai mengelilingi alun-alun satu kali. Sudah. Besoknya begitu lagi, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.

Jika kita mau introspeksi, semua kebiasaan yang kita miliki saat ini berawal dan terbentuk dengan cara seperti itu. Mula-mula sangat ringan, sederhana, hingga kita tidak menyadari sedang membentuk kebiasaan baru. Tetapi, seiring waktu, karena kita terus menerus melakukannya, akhirnya terbentuk jadi kebiasaan. Dari kebiasaan nonton televisi, sampai kebiasaan megang ponsel kapan pun dan di mana pun.

Kembali ke pertanyaan. Bagaimana cara agar mampu belajar hingga berjam-jam tanpa bosan? Jawabannya sama seperti cara kita membentuk aneka kebiasaan lain. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dimulai dengan yang paling ringan, dan kita terus melakukannya setiap hari, dengan konsistensi, hingga akhirnya terbiasa melakukan. Setelah kebiasaan terbentuk, kita tidak lagi merasa terpaksa atau bosan.

Pada abad ke-6 Sebelum Masehi, pada zaman Yunani kuno, ada orang luar biasa bernama Milo of Croton (Milo dari Croton). Dia berasal dari kota Magna Graecia, Croton, dan merupakan pegulat yang tak terkalahkan. Dalam banyak perayaan olahraga paling berpengaruh di zaman Yunani kuno, Milo of Croton selalu muncul sebagai pemenang, bahkan memenangi enam medali Oimpiade berturut-turut!

Usain Bolt, atlet pemegang rekor dunia dalam lomba lari, pernah mengatakan, “Win three and become immortal.”

Milo of Croton melampaui rekor itu. Dia bukan hanya memenangi tiga medali, tapi enam! Sepanjang kariernya, dia dikenal sebagai pegulat terkuat, sekaligus atlet paling brilian di zamannya.

Bagaimana Milo of Croton bisa sehebat itu? Dia membentuk kebiasaannya, dan dia memulai kebiasaannya dengan cara yang tak terbayangkan para pegulat lain.

Di masa itu, khususnya menjelang Olimpiade, para pegulat biasa latihan dengan cara mengangkat seekor banteng dewasa, sambil berjalan atau lari. Mereka mengikat kaki-kaki banteng, menggendong atau mengangkatnya dengan kedua tangan, lalu berjalan dengan beban yang berat tersebut. Tujuannya tentu memiliki lengan dan kaki yang sangat kuat, tubuh yang sangat kokoh, yang dibutuhkan untuk pertandingan gulat.

Tapi Milo of Croton punya kebiasaan yang jauh berbeda. Alih-alih mengangkat seekor banteng besar seperti rekan-rekannya, dia mengangkat bayi sapi!

Berbeda dengan tubuh banteng dewasa yang beratnya bisa ratusan kilo, bayi sapi hanya seberat beberapa kilo. Setiap hari, Milo menggendong atau mengangkat bayi sapi yang ringan itu di tangannya, berjalan-jalan dengan beban yang ringan itu setiap hari, ke mana pun dia pergi. Teman-temannya sesama pegulat menertawakan ulahnya, tapi Milo tak peduli.

Bayi sapi itu hampir tak pernah lepas dari tubuh Milo. Setiap hari, Milo memberi makan bayi sapi itu, lalu menggendongnya kembali, dan terus begitu setiap hari. Seiring waktu, bayi sapi itu terus tumbuh besar, begitu pula kekuatan Milo. Karena Milo terus menggendongnya setiap hari, pertumbuhan bobot bayi sapi tidak terlalu dirasakannya. Sampai akhirnya, bayi sapi itu benar-benar tumbuh menjadi sapi dewasa dengan bobot ratusan kilo, dan Milo of Croton tetap mampu mengangkat atau menggendongnya dengan mudah! 

Tepat seperti itulah kebiasaan dibentuk dan dibangun. Dari kebiasaan berolahraga, sampai kebiasaan belajar, dan aneka kebiasaan lain.

Para pegulat di zaman Yunani kuno berlatih dengan mengangkat seekor banteng dewasa menjelang Olimpiade, demi membentuk kekuatan tubuh, agar memenangi pertandingan. Milo of Croton berlatih dengan mengangkat bayi sapi setiap hari, berbulan-bulan, sampai bayi sapi tumbuh dewasa. Bahkan baru sampai di sini, kita sudah tahu siapa yang akan jadi pemenang. Karenanya pantas kalau Milo sampai memenangi enam medali berturut-turut. Orang semacam itu jelas sulit dikalahkan!

Di sekolah atau di kampus, kebanyakan kita biasanya baru tekun belajar menjelang ujian. Kalau besok ujian mata pelajaran atau mata kuliah A, misalnya, kita pun tekun belajar materi A, berjam-jam, kadang semalaman sampai kurang tidur. Tujuannya tentu agar bisa mengerjakan soal ujian dan mendapat nilai bagus. Besoknya, sesampai di sekolah atau di kampus, kita masih melanjutkan belajar materi A, sampai bel masuk kelas berbunyi. 

Tetapi, ada pula teman kita yang belajar setiap hari, tak peduli ada ujian atau tidak. Dan mereka tidak sampai belajar semalaman hingga kurang tidur. Paling-paling, setiap malam, mereka hanya belajar 10 atau 15 menit. Atau paling tidak setengah jam. Sudah, setelah itu mereka nonton teve, tidur, atau mengerjakan aktivitas lain. Tapi mereka melakukannya—belajar setiap malam—dengan kedisiplinan dan konsistensi.

Ketika akhirnya masa ujian tiba, mereka tidak “panik” sampai harus belajar semalaman, karena materi-materi yang perlu mereka pelajari sudah nempel semua di pikiran. Wong mereka melakukannya setiap hari, kok! Dan, kira-kira, siapakah yang akhirnya bisa mengerjakan ujian dengan baik hingga mendapat nilai tertinggi? Ya, teman kita yang itu!

And then, begitulah kebiasaan dibentuk, termasuk kebiasaan belajar. Kalau kita memulainya dengan berat—semisal langsung berusaha mengkhatamkan buku yang sangat tebal, atau belajar semalaman sampai kurang tidur—kita tidak akan menghasilkan apa-apa, selain mungkin kelelahan dan bosan. Dan tujuan kita membentuk kebiasaan akan gagal, atau berhenti di tengah jalan.

Cara terbaik sekaligus efektif membentuk kebiasaan—khususnya kebiasaan belajar—adalah dengan memulai perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, diawali dengan yang paling mudah sekaligus ringan... asal kita terus melakukannya setiap hari, dengan kedisiplinan dan konsistensi. 

Ingin bisa membaca buku-buku tebal dengan ribuan halaman? Mulailah dengan membaca buku-buku yang tipis, atau mulailah dengan hanya membaca satu halaman per hari. Jangan membebani diri sendiri. Mulailah dengan yang mudah—sebegitu mudah, hingga kita ringan melakukannya setiap hari. Karena merasa ringan, kita pun nyaman jika ingin mengulangi, dan perlahan-lahan kebiasaan membaca satu halaman bertambah jadi dua halaman, tiga halaman, empat, lima, sampai ratusan halaman. Para kutubuku melewati proses seperti itu.
 
Jadi, ingin mampu belajar hingga berjam-jam tanpa bosan? Mulailah dengan yang paling mudah sekaligus ringan. Cukup belajar 5 menit setiap hari. Tapi lakukan terus menerus, setiap hari, dengan ketekunan dan konsistensi, hingga waktu 5 menit itu terasa sangat singkat, hingga kita ingin menambahinya. Lalu kebiasaan belajar 5 menit bertambah jadi 10 menit, 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam... hingga pada suatu waktu kita bisa terus asyik belajar sampai berjam-jam tanpa bosan. Para pembelajar yang paling tekun menjalani proses semacam itu.

Mula-mula, kita membentuk kebiasaan. Setelah itu, kebiasaan yang membentuk kita. Dan perjalanan paling jauh, kata Lao Tzu, dimulai dengan langkah pertama.

Article Top Ads

Central Ads Article 1

Middle Ads Article 2

Article Bottom Ads