Iklan

Perubahan Paradigma Ekonomi, dari Linear Menuju Sirkular

INDONESIA baru saja menggelar hajatan tingkat menteri lingkungan hidup dan iklim atau The Joint Environment and Climate Ministers Meeting (JECMM) G-20 yang diketuai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Pertemuan yang akan dilanjutkan di KTT G-20 pada November mendatang, menegaskan kembali komitmen Indonesia sebagai Presidensi G-20 terhadap sejumlah isu sentral di tingkat global, termasuk lingkungan hidup.

Tantangan perubahan iklim menjadi isu bersama negara-negara dunia karena dampaknya yang signifikan terhadap dinamika global. Banjir bandang di Pakistan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang serta menghancurkan begitu banyak tempat tinggal dan infrastruktur negara ini. Saking dahsyatnya dampak bencana alam ini, pemerintah Pakistan mengumumkan darurat nasional dan dukungan internasional untuk mengatasinya.

Pada saat yang sama, terjadi kekeringan di tempat lain yang menunjukkan adanya masalah serius pada perubahan iklim di tingkat global. Kondisi itu diperburuk dengan meletusnya perang antara Rusia dan Ukraina serta dampak pandemi covid-19 yang memengaruhi roda kehidupan masyarakat dunia dewasa ini. Salah satunya, muncul masalah keamanan pangan dan energi karena rantai pasokan global yang terganggu akibat perang. Dalam situasi ketidakpastian dan kerentanan ini, banyak upaya telah dilakukan di kancah global. Namun, kebanyakan dilakukan hanya berputar pada tingkat permukaan dan belum menyentuh perubahan fundamental, termasuk pola pikir dengan mengubah paradigma.

 

Butuh paradigma baru

Tuntutan untuk mengadopsi paradigma baru dalam melihat dinamika global menemukan bentuk baru yang semakin jelas sejak matematikawan Amerika Serikat Edward Norton Lorenz menyodorkan gagasan teori butterfly effect. Menurut teori itu, ketergantungan sensitif pada kondisi awal perubahan kecil dalam satu keadaan sistem nonlinier deterministik, bisa menghasilkan perbedaan besar dalam keadaan selanjutnya. Perubahan iklim memicu banyak masalah, termasuk ekonomi yang harus dikaji dengan paradigma baru.

Perubahan iklim yang terjadi bersamaan dengan dinamika dunia lainnya, seperti gangguan rantai pasokan global, menuntut perubahan paradigma ekonomi, dari kebiasaan produksi dan konsumsi kita dengan mengadopsi kebijakan yang akan membantu kita mencapai model ekonomi berdasarkan landasan yang lebih berkelanjutan. Model ekonomi dunia saat ini memiliki struktur linear berdasarkan pendekatan ‘beli-gunakan-buang’.

Sederhananya, dalam model linear, sumber daya diekstraksi, diubah menjadi produk, dan kemudian diubah menjadi limbah. Proses itu menghasilkan pasokan input yang intensif, penggunaan energi, dan berdampak pada produksi limbah yang tidak terbendung. Sistem itu berpijak pada asumsi bahwa sumber daya alam tidak terbatas dan kita manusia berhak untuk mengeksploitasi alam. Namun, kini, paradigma itu mulai terbantahkan karena tidak mampu memenuhi tuntutan masalah global, terutama perubahan iklim.

 

Ekonomi sirkular

Berlawanan dengan model linier, ekonomi sirkular bertujuan memperpanjang siklus hidup produk yang ada sebanyak mungkin dengan menggunakan metode seperti berbagi, menyewakan, menggunakan kembali, memperbaiki, dan mendaur ulang. Langkah itu berupaya untuk mengurangi penggunaan bahan baku, menghasilkan produk dengan sumber daya yang lebih sedikit, dan memulihkan limbah melalui daur ulang. Semua produk yang dikonsumsi dalam ekonomi sirkular digunakan berulang kali. Dengan demikian, jika produk rusak, harus diperbaiki, dan ketika tidak memungkinkan untuk diperbaiki, limbah akan diproduksi menjadi produk baru. Dengan demikian, dalam ekonomi sirkular sampah menjadi bahan baku baru.

Ekonomi sirkular tidak hanya penggunaan kembali dan daur ulang, tetapi juga memengaruhi perubahan dalam metode produksi dan konsumsi yang akan mengurangi emisi. Dalam model ekonomi ini, pangsa energi terbarukan dan sumber daya yang dapat didaur ulang meningkat serta penggunaan air, tanah, energi, dan terutama bahan baku berkurang. Oleh karena itu, efek lingkungan yang positif muncul. Ini juga memastikan pembangunan yang berkelanjutan, mengurangi ketergantungan ekonomi pada dinamika eksternal, dan membuat struktur produksi dan konsumsi lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Pendekatan itu menciptakan model bisnis yang mencakup desain produk yang lebih tahan lama dan dapat didaur ulang, penggunaan kembali bahan baku dalam siklus produksi, dan mempromosikan konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Cara pandang itu mengarah pada inovasi dan upaya membantu menyediakan peluang kerja baru. Dalam sebuah studi yang dilakukan International Labor Organization (ILO) tentang masalah ini, diperkirakan bahwa 7-8 juta lapangan kerja bersih akan meningkat dalam skala global hingga 2030 berkat transisi ke ekonomi sirkular. Dalam kerangka keuntungan ekonominya, diperkirakan transisi dari paradigma linear ke sistem sirkular memiliki potensi sebesar US$4,5 triliun untuk pertumbuhan ekonomi global hingga 2030.

Meskipun memiliki banyak aspek positif, faktanya penggunaan model ekonomi sirkular secara global masih sangat rendah. Circularity Gap Report (CGR) 2021 mengungkapkan, dari ekonomi global yang berjalan saat ini, hanya 8,6% yang mempraktikkan sistem itu. Namun, laporan tersebut juga menyebutkan, target implementasi dari sistem ini akan meningkat menjadi 17% pada 2030 bukan hal yang mustahil.

Tidak diragukan lagi, situasi ini dapat dikaitkan dengan minimnya kebijakan untuk mendukung atau mendorong ekonomi sirkular dan kegagalan untuk menyampaikan kebijakan dengan benar ke arah ini kepada para pemangku kepentingan. Selain itu, situasi itu dapat disebabkan oleh terbatasnya rantai pasokan, infrastruktur teknologi yang tidak memadai, atau tingkat pengetahuan dan keahlian para pemangku kepentingan untuk ekonomi sirkular. Semua masalah itu menunjukkan urgensitas transformasi yang komprehensif dan inklusif, dari paradigma ekonomi linear ke sirkular, dengan partisipasi semua pemangku kepentingan terkait di bawah kepemimpinan otoritas publik.

 

Masalah urbanisasi

Perubahan paradigma linear menuju sirkular semakin penting di tengah meningkatnya tantangan urbanisasi yang memengaruhi banyak dimensi dalam kehidupan masyarakat. Pada 2050, diprediksi 70% populasi dunia akan tinggal di kota. Kota-kota saat ini menyumbang sekitar dua pertiga dari permintaan energi global, bertanggung jawab atas 80% emisi gas rumah kaca dan 50% limbah global. Oleh karena itu, jika diperhitungkan bahwa efek negatif perubahan iklim akan meningkat, terutama jika model ekonomi linear terus diadopsi di kota, risiko yang dihadapi masyarakat semakin besar.

Populasi kota yang berkembang pesat serta meningkatnya permintaan barang dan jasa membuat penggunaan sumber daya yang efisien dan pembangunan struktur ramah lingkungan menjadi lebih mendesak, dan memerlukan penciptaan rantai pasokan yang sehat dan lebih pendek. Transformasi tersebut akan memengaruhi tidak hanya tindakan yang akan diambil sektor industri di kota-kota, tetapi juga bahan dan desain yang digunakan di sektor konstruksi, transportasi umum dan metode transportasi lainnya, sistem pangan dan banyak produk, serta jasa lainnya. Dengan cara itu, semua ekonomi akan lebih tahan terhadap iklim dan guncangan eksternal lainnya, dimulai dari kota.

Peran kota dalam ekonomi sirkular menjadi salah satu isu butir deklarasi akhir KTT Pemimpin Kelompok G-20 yang diadakan di Roma pada 2021, di bawah masa kepresidenan Italia. Dalam deklarasi tersebut, para pemimpin negara menggarisbawahi peran kunci kota dalam mempromosikan, memfasilitasi dan memungkinkan ekonomi sirkular, dan berkomitmen untuk mendukung solusi berbasis lokasi oleh pemerintah daerah. Beberapa negara juga telah berkomitmen mendukung upaya untuk meningkatkan efisiensi sumber daya kota dan pendekatan melingkar, termasuk melalui G-20 Resource Efficiency Dialogue.

Indonesia, sebagai salah satu kekuatan ekonomi menengah dunia, harus terlibat aktif dalam mewujudkan transformasi paradigma ekonomi, dari linear menuju sirkular. Dalam konteks itu, studi komprehensif perlu dilakukan dengan partisipasi semua pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan rencana pembangunan hijau, sebagaimana yang dicanangkan pemerintah seperti Indonesia Bersih Sampah 2025 dan net-zero emisi pada 2060. Tanpa langkah-langkah yang serius dan komprehensif, cita-cita itu hanya akan menjadi slogan.

Gerakan Indonesia tanpa sampah tidak kalah penting menuju transformasi ke arah ini. Dengan inisiatif tersebut, manfaat besar diberikan dalam hal mencegah limbah, menggunakan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi jumlah limbah, membangun sistem pengumpulan yang efektif, dan selanjutnya mendaur limbah menjadi produk baru yang bisa dijual dan diterima masyarakat.

Dalam perspektif Maqashid Syariah, paradigma ekonomi sirkular menegaskan prinsip utama mengenai penjagaan nyawa, harta, dan keturunan yang mencakup alam semesta ini. Itu karena bumi ini bukan milik kita yang bisa sesukanya dieksploitasi. Namun, kita hanya meminjamnya dari generasi mendatang.




Sumber Berita

Article Top Ads

Central Ads Article 1

Middle Ads Article 2

Article Bottom Ads