Iklan

Harga Bitcoin Menguat dalam Jangka Panjang — Blockchain Media Indonesia

[ad_1]

NYDIG, perusahaan investasi kripto yang didukung oleh Morgan Stanley, tak menampik lemahnya pasar kripto dan Bitcoin saat ini karena guncangan makro ekonomi, menegaskan bahwa harga Bitcoin (BTC) menguat dalam jangka panjang. Sinyal untuk bersabar?

Demikian disampaikan perusahaan yang bermarkas di New York itu pada Jumat (6/5/2022), ditulis oleh Greg Ciplaro dan Ethan Kocvav dalam ulasan mingguan melalui surel yang diterima Redaksi Blockchainmedia.id.

“Pada Rabu lalu, The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 bps (basis points) dan akan mengurangi asetnya, saat ini US$9 triliun mulai Juni dengan US$47,5 miliar per bulan,” tulis mereka di awal artikel ulasan itu untuk menggambarkan secara umum situasi makro ekonomi.

Kebijakan pengetatan moneter itu, seperti yang kita ketahui untuk melawan inflasi di AS yang mencapai 8,5 persen year-on-year per akhir Maret 2022. Sejak The Fed menerapkan kebijakan awal itu sejak awal tahun ini, dolar AS terus menguat yang ditandai dengan kenaikan indeks dolar (DXY) yang mencapai 104. Ini melampaui indeks pada Januari 2017 dan mencoba menyamai capaian tahun 2001, yakni 120.

Dolar yang menguat akan memaksa investor masuk ke instrumen tabungan dan bank ataupun obligasi yang imbal hasilnya lebih menarik, berkat kenaikan suku bunga itu, meninggalkan pasar saham dan pasar kripto yang dianggap terlalu berisiko menggerus portofolio mereka.

NYDIG mencatat, pada September 2020 nanti, pengurangan aset The Fed dapat meningkat hingga US$95 miliar per bulan.

“Investor menghela nafas lega karena lebih banyak berita hawkish tidak muncul dari konferensi pers oleh Gubernur The Fed, Jay Powell. Saham dan Bitcoin menguat tajam. Namun, euforia itu berumur sangat pendek, karena aset berisiko itu berbalik arah pada Kamis. Kami berpendapat sebagian besar kenaikan harga pada Rabu berkaitan dengan posisi trader menjelang pengumuman itu, sementara pembalikan menunjukkan kurangnya kepercayaan di pasar dan stabilitas ekonomi, terutama dengan latar belakang kontraksi PDB AS kuartal pertama,” sebut NYDIG.

Berpotensi Menimbulkan Resesi

Sementara menekan inflasi jelas adalah sasaran dari kebijakan moneter The Fed saat ini, masih harus dilihat apakah tekanan di pasar dan kontraksi ekonomi pada akhirnya akan menyebabkan The Fed melonggarkan suku bunganya.

Ada sejumlah skenario yang memungkinkan The Fed akan melonggarkan kebijakannya.

Pertama, pertumbuhan PDB riil kurang dari sasaran. Pada kuartal pertama tahun 2022 saja, masih menunjukkan kontraksi yang mengejutkan.

“Meskipun ini bukan proyeksi saat ini, model GDPNow Fed Atlanta melacak pertumbuhan +2,2 persen untuk kuartal kedua tahun 2022, pertumbuhan negatif kuartal berikutnya secara teknis akan menempatkan AS dalam resesi,” sebut mereka.

Deutsche Bank: Resesi AS Dapat Terjadi Tahun Depan

Kedua, pasar keuangan tradisional telah lemah, dan The Fed memperhatikan pasar. S&P 500 turun hampir 14 persen dari tertinggi sepanjang masa pada Januari. Sedangkan Nasdaq 100 turun lebih dari 23 persen dari tertinggi sepanjang masa pada November 2021.

Lebih memprihatinkan, iShares High Yield Corporate Bond ETF (HYG) dan iShares Investment Grade Corporate Bond ETF (LQD) telah turun ke tingkat yang tidak terlihat sejak krisis COVID-19, Maret 2020.

Ketiga, bias inflasi mungkin mulai terlihat lebih baik, karena angka tahun ke tahun akan mencerminkan tingkat dasar yang lebih tinggi yang terlihat mulai musim semi tahun lalu.

“Hal ini dapat mendorong The Fed untuk mengurangi kenaikan suku bunga yang bertujuan untuk menjinakkan inflasi,” sebut analis NYDIG.

Harga Bitcoin Menguat Karena Makro Ekonomi yang Berbalik Arah, Bilakah?

Kedua analis memastikan lagi, bahwa dampak perkembangan makro ekonomi saat ini berdampak serius pada pasar kripto, termasuk Bitcoin.

Penyebabnya adalah, korelasi antara Bitcoin dan pasar modal (saham/efek) tetap mendekati tertinggi sepanjang masa, kemungkinan karena faktor ekonomi makro dan basis investor yang berubah dari ritel ke institusional.

“Kenaikan suku bunga, akan meningkatkan biaya modal. Ini yang menguras likuiditas dari semua pasar keuangan, termasuk Bitcoin,” jelasnya.

Meskipun mungkin sulit untuk melepaskan diri dari cengkeraman lingkungan makro dalam jangka pendek, hal baiknya adalah bahwa dalam jangka panjang, Bitcoin memiliki manfaat dari “pertumbuhan sekuler dalam adopsi”.

Harga Bitcoin Menguat

Pernyataa NYDIG itu menguatkan asumsi, bahwa dalam jangka pendek, pasar kripto akan terus tertekan dan perlu kesabaran ekstra. Sedangkan dalam jangka pendek, menanti arus balik kebijakan makro ekonomi, adopsi Bitcoin tak akan luruh.

“Ada siklus utama di Bitcoin, ketika sudah mencapai titik tertinggi, akan mencapai titik terendah lagi, sebelum menaik kembali mencapai harga tertinggi sepanjang masa,” sebut analis.

Ada sejumlah penanda yang mereka catat, yakni aksi membeli Bitcoin dengan target jangka panjang hingga US$10 miliar oleh Luna Foundation Guard (LFG).

Kerangka besar pembelian itu untuk memenuhi konsep “The Bitcoin Standard”, yakni terhadap nilai stablecoin bernilai dolar Terra, yakni TUSD.

13 Fakta Harga Bitcoin (BTC) Ambrol Parah Senin Kemarin

“Dengan sejumlah proyek stablecoin lain yang mungkin akan mengambil langkah serupa, Bitcoin akan memainkan peran pentingnya, karena jelas dipandang sebagai mata uang cadangan utama di dunia kripto,” pungkas analis, menegaskan proyeksi bahwa harga Bitcoin menguat dalam jangka panjang, jika kondisi makro ekonomi berubah sebaliknya. [ps]

[ad_2]
Sumber

Article Top Ads

Central Ads Article 1

Middle Ads Article 2

Article Bottom Ads